Jalan Jalan Ke Baluwarti, Kampung Wisata Asal Usul Kota Solo

1:02:00 AM

baluwarti-6

#Destination – “Peninggalan akan selalu abadi, serta mempunyai cerita tersendiri diantara kehidupan sekarang”. Langkah saya menuju suatu perkampungan yang berada disudut Keraton Surakarta. Salah satu nama kampung yang berada di kawasan Keraton Surakarta adalah “Baluwarti”. Bersama guide yang menceritakan sejarahnya bersama saya dan rombongan. Baluwarti berasal dari bahasa Portugis yaitu “Baluarte” yang berarti Bentang.

baluwarti-4

baluwarti-2

baluwarti-5

Pertama kali yang saya lihat adalah ketika memasuki gang kampung Baluwarti adalah patung-patung hindu yang berada di sisi tembok yang dibelakangnya terdapat pura untuk peribadatan umat hindu yang masih digunakan sampai sekarang. Patung dan Pura tersebut merupakan salah satu peninggalan dahulu sebelum menjadi mataram islam.

baluwarti-3

baluwarti-8

baluwarti-9

baluwarti-11


baluwarti-10

baluwarti-7

baluwarti-12


baluwarti-13

baluwarti-14

Di setiap sisi kampung Baluwarti dikelilingi tembok besar komplek Keraton Surakarta dengan tembok setebal 2 meter dan tinggi 6 meter. Saya membayangkan begitu hebatnya orang-orang jaman dahulu bisa membuat benteng sebesar ini untuk melindungi dan mengawasi Belanda waktu itu.

Di Komplek bangunan inilah para pangeran, kerabat, abdi dalem tinggal. Baluwarti yang saya kunjungi kini menjadi sebuath kampung wisata budaya di Surakarta. Di dalam kampung Baluwarti selain terdapat Pura, Masjid, Rumah penduduk juga terdapat makam kyai Sala dan Rumah Pangeran yang menjadi icon tersendiri di Kampung Baluwarti.

baluwarti-15

baluwarti-16

baluwarti-17

baluwarti-18

Ki Gede Sala, tokoh pendiri cikal bakal Kota Solo. Menurut sejarah, beliaulah yang menpunyai tanah atas Keraton Surakarta dulunya. Ditempat yang sederhana, di tengah kampung Mloyokusuman, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon. Di kompleks itulah, Ki Gede Sala, tokoh pendiri cikal bakal Kota Solo dimakamkan.

Kompleks makam Ki Gede Sala, selain Makam Ki Gede Sala, di pemakaman ini terdapat pula makam dua kerabatnya, yakni makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang yang dimakamkan bersebelahan dengan Pendiri cikal bakal kota Solo tersebut. Makanya kenapa Surakarta disebut juga dengan Sala atau Solo. Tak lama kemudian langkah kaki saya menuju ke belakang komplek makan Kyai Solo, dibalik pintu terdapat rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah tersebut merupakang rumah pangeran atau Ndalem Mloyokusuman.

baluwarti-19


baluwarti-20

baluwarti-22


baluwarti-25

baluwarti-21

baluwarti-26

baluwarti-23

baluwarti-24

baluwarti-28

baluwarti-27

Menurut sejarajnya rumah tradisional itu dibangun di tanah seluas 6.666 meter persegi seperti jumlah ayat dalam kitab suci Alquran. Konon, tanah itu dibeli oleh Paku Buwono (PB) II pada 1745 seharga 10.000 keping emas.  Bisa bayangkan kan kayanya keluarga Keraton?. Rumah ini kini sudah berusia sekitar lebih dari 250 tahun. Disinilah destinasi terakhir ketika saya berkunjung di Kampung Baluwarti Solo, Ayo DolanKe Solo :)

You Might Also Like

2 Komentar

  1. Hooo.. Begini ternyata Baluwarti kalo ditelusuri secara lebih detail..
    Cuma pernah lewat dengan motor selama ini..

    ReplyDelete