Potret Sanitasi dan Air Bersih di Desa Doropayun, Rembang

7:52:00 PM


#Special Invitation – “Kalian tidak akan dapat keluar dari kemiskinan jika tidak bisa mengatasi air bersih dan sanitasi”, begitulah kata aktor pemeran Jason Bourne Matt Damon yang juga menjadi co-founder water.org. Pagi itu saya bangun dari salah satu hotel yang terletak didepan alun-alun kota Rembang. Seperti orang pada umumnya, saya bisa merasakan mandi dengan air bersih dan membuang air besar dipagi hari dengan sanitasi kelas hotel yang sangat layak.


Tidak lama kemudian saya dan teman-teman turun menuju restoran hotel untuk sarapan dan menikmati beberapa gelas air dengan berbagai macam rasa serta sarapan. Hmm..sungguh nikmatnya pagi itu, nikmat Tuhan manalagi yang bisa saya dustakan.

Setelah saya check out, saya pun sudah ditunggu oleh sebuah mobil yang akan mengantar kami menuju salah satu desa yaitu Desa Doropayun dan Desa Tuyun Kecamatan Pancur, Rembang. Dalam perjalanan kami menikmati indahnya kawasan pesisir pantai utara. Tak lama kemudian berhentilah kami di BMT BUS untuk sedikit diberi penjelasan mengenai peran serta BMT BUS dengan Water.org untuk masyarakat yang masih bermasalah dengan air bersih dan sanitasi


Kurang lebih setengah jam, saya beserta rombongan menuju ke Desa Doropayun. Hari semakin panas, membuat jalan yang kami lewati semakin mengering. Tidak terasa tiga puluh menit perjalanan tibalah saya di desa tersebut. Pertama kali menginjakkan kaki saya di ajak oleh Pak Mirza dari  BMT Bus untuk menyambangi salah satu rumah warga.

Dirumah tersebut saya berjumpa dengan Ibu Marsini. Di rumah inilah potret kemiskinan terlihat jelas. Desa Doropayun yang terletak di Rembang tersebut masih ada beberapa warga yang sangat membutuhkan uluran tangan serta pendidikan mengenai pentingnya sanitasi dan air bersih. Permasalahan yang ada di keluarga Ibu Marsini adalah sanitasi. Dimana sebelum ada bantuan dari BMT Bus dan Water.org, rata-rata warga di Desa Doropayun masih membuang air besar sembarangan, sangat miris bukan.

Bahkan saya sempat bertanya kepada Ibu Marsini, ‘selama ini sebelum dapat bantuan kredit untuk sanitasi klo buang air besar dimana bu ?’, dengan polosnya Ibu Marsini menjawab ‘ya di bawah parpringan (pohon bamboo) belakang rumah mas’.

Ibu Marsini yang suaminya sehari-harinya hanya bekerja sebagai tukang becak hanya cukup sebagai biaya kebutuhan pokok sehari-hari. Saya lihat Ibu Marsini juga  berternak Sapi. Namun penghasilannya juga tetap tidak cukup untuk kebutuhan lainnya. ‘ Buat sehari hari saja masih pas pasan mas, apalagi buat bikin WC’. Ungkap dia.

Untuk itu water.org bersama BMT Bus memberikan bantuan kredit lunak yang bisa di angsur sebulan Rp.120 ribu selama satu tahun. Disini lalu muncul pertanyaan dari saya? ‘kenapa harus kredit dan tidak langsung bantuan Cuma-Cuma saja ?’. dari penjelasan BMT Bus dan Water.org, bantuan tersebut sudah berupa paket material hingga tukang. Dibuat kredit tanpa bunga, karena agar warga mempunyai rasa memiliki terhadap uang yang mereka keluarkan.


Selain Ibu Marsini, kami juga menuju ke desa sebelah. Disana saya juga berkunjung ke rumah Pak Kalil yang mempunyai permasalahan yang sama yaitu sanitasi. Bahkan kata Pak Kalil sebelum mendapat bantuan kredit sanitasi,  Pak Kalil lebih nyaman jika buang air besar di kali atau sawah. Tidak hanya pak Kalil, memang rata-rata warga Doropayun sekitar 60-70 persen memang masih membuang air besar di kali dan sawah. Ironisnya lagi mereka sebenarnya warga yang mampu dan membuat sanitasi.

Meskipun sebagian tokoh masyarakat termasuk bidan setempat sering memberikan penyuluhan tentang sanitasi  lewat rapat desa hingga pengajian, masyarakat desa Doropayun belum sepenuh nya menyadari arti kebersihan sanitasi bagi mereka. Inilah tantangan pemerintah setempat untuk bisa merubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya air bersih dan sanitasi.


Namun berbeda dengan semangat Pak Paryono, bapak dengan dua anak yang juga tinggal satu kecamatan dengan Ibu Marsini dan Pak Kalil. Pak Paryono yang asli Boyolali yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang cilok ini begitu semangat tentang masalah sanitasi. Apalagi ketika itu anak keduanya akan lahir yang tentunya istri dan anaknya membutuhkan tempat yang lebih layak.

Oleh karena itu Pak Paryono berusaha menyisihkan penghasilannya untuk di tabung di BMT Bus. Sebagian hasil dari tabungan tersebut digunakan sebagai angsuran membuat sanitasi. “ Saya kredit hanya bahan materialnya saja mas, untuk tenaga saya kerjakan sendiri setelah keliling berdagang cilok”, ungkap Pak Paryono. Oh oya omong-omong cilok buatan pak Pak Paryono ini enak lho, tidak seperti cilok pada umumnya di kota saya..


Saya sendiri sangat salut melihat semangat Pak Paryono yang berusaha memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi demi keluarganya dalam keadaan ekonomi yang masih kekurangan. Dengan adanya organisasi seperti water.org serta BMT Bus, saya berharap masalah sanitasi dan air bersih di Indonesia bisa teratasi. Tentunya hal ini butuh peran pemerintah dalam merubah pola pikir warga seperti di Doropayun, Rembang.

NB : Tulisan ini dibuat  atas undangan water.org

You Might Also Like

0 Komentar