Kehidupan Nelayan di Sarang, Rembang Pesisir Pantai Utara

6:22:00 PM


#Special Invitation – “Kebersihan merupakan bagian dari keimanan”, Pantai Utara atau yang sering disingkat dengan pantura, merupakan wilayah yang terkenal akan para santrinya. Siang itu, setelah makan siang saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Nelayan. Selama perjalanan, banyak bangunan-bangunan masjid yang berdiri dengan kokoh dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi dilangit di sepanjang jalan yang saya lewati. Ya..ini adalah salah satu ciiri khas masjid di pesisir pantai utara.
Selain masjid, sepanjang jalan saya disuguhkan oleh pemandangan lepas pantai yang begitu indah, karena antara jalan raya dengan garis pantai saling berdampingan. Tidak lama kemudian mobil yang saya tumpangi berhenti disebuah desa pinggir pantai.



Saya pun turun bersama rombongan, kami berjalan melewati sebuah gang dengan ujung laut. Selama berjalan kurang lebih 200 meter, terlihat bangunan rumah-rumah kecil milik nelayan desa sarang. Selama perjalanan kami ditemani oleh beberapa tim dari BMT Bus seperti mas Udin, Pak Mirza dan Ibu Amrih. Mereka menjelaskan keadaan kampung nelayan di desa sarang ini, bahwasanya kampung nelayan ini keadaan warganya masih jauh dari keberadaan air bersih dan sanitasi yang kurang memadai.

Saat sampai di tepi pantai, saya melihat banyak kapal nelayan yang bersandar di tepi pantai dengan pantai yang saya lihat memang pantainya sangat kotor dan tidak terurus mengenai sampah, wilayah yang kumuh dan sangat bau adalah predikat yang cocok saya sematkan untuk kampung nelayan Desa Sarang. Meskipun dalam keadaan seperti ini, tidak menyurutkan semangat anak-anak nelayan bermain di pantai serta tetap belajar agama di masjid-masjid terdekat.


Sarana sanitasi dan air mereka pun sangat minim sekali. Ironisnya lagi, rata-rata mereka yang belum mempunyai air bersih masih menggunakan kamar mandi umum dan sanitasinya langsung di buang ke hilir sungai yang langsung ke laut, tidak melalui pembuangan khusus atau septitank. Bahkan ada beberapa warga bercerita kalau buang air besar juga masih di laut langsung.

Namun, sejak adanya program khusus dari BMT Bus serta water.org serta ajakan pentingnya untuk hidup bersih, mereka lama-lama menyadari dan berusaha merubah pola hidup mereka. Sebut saja ibu Ufiyah, dia adalah istri nelayan yang sering ditinggal suaminya sekali melaut hingga 10 hari. Penghasilan yang rata-rata sekali melaut hanya 500 ribu dan bisa lebih membuat suami dan ibu Ufiyah ingin merubah pola kehidupannya menjadi hidup bersih.

Sebelum ada program sanitasi dan air bersih, bu Ufiyah dan suami masih sering membuang air besarnya ke laut beratap langit. Bahkan mereka rela juga ketika punya hajat di malam hari berjalan hingga sampai pantai. Namun sejak ada BMT Bus serta water.org, kini bu Ufiyah sudah bisa menikmati sarana air bersih yang langsung disambungkan dari PDAM terdekat.



Walau awalnya bu Ufiyah merasa keberatan dengan kredit tersebut, kini setelah merasakan manfaatnya bu Ufiyah sadar betul mengenai pentingnya air bersih dan sanitasi yang memadai. Bahkan beberapa warga yang saya liat kemarin sempat menanyakan ke mas Udin (salah satu pelaksana BMT Bus) tentang bagaimana caranya supaya mendapatkan sarana air bersih yang memadai seperti tetangganya yaitu bu Ufiyah.

Meskipun belum semuanya warga kampung nelayan bisa merasakan hal yang sama, namun rata-rata mereka sedikit-demi sedikit sudah mulai berusaha mengubah pola hidup mereka. Apalagi kawasan ini adalah kawasan santri, malu dong pastinya jika keimanan mereka tidak diimbangi dengan kebersihan.

NB : Tulisan ini dibuat  atas undangan water.org

You Might Also Like

4 Komentar

  1. Aku sudah lama pengen mneyusuri pantai di Rembang, bulan agustus kemarin gagal; tapi tetap pengen ke sana :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. pantainya bagus yang pas dipinggir jalan raya..tapi klo yang deket kampung nelayan agak kotor mas..

      Delete
  2. pas bena ke rembang kemarin, emang sempet sih main ke pantainya gitu. cuma ya gitu, bena nggak tertarik, karena ya tadi, pantainya agak sedikit kotor mungkin karena deket dengan kampung nelayan. pft. tapi kota rembangnya menarik kok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bena..coba pantainya di kelola dengan baik lagi ya..pasti keren

      Delete